Ti amo, Sensei (3)

Sudah lama tidak update~

Sekalinya update kecepetan, sekarang update-nya kelamaan.

Yare-yare, ini semua karena tugas sekolah! -alibi, padahal ga niat nulis-

Makasih banget karena udah mau ngereview fic gaje ini. XD

Maap karena ga bales rippiu, tapi mulai chapter 3, atashi janji bakalan sebisa mungkin bales rippiu. :D -kalau niat- /plak

Sekarang, selamat membaca aja yah~



Warning: awas, shounen-ai attack dimulai! OOC, gaje, dan fic yang sangat tak pantas untuk dibaca! D18 mode~

Disclaimer: Hibari Kyoya, Dino Cavallone, dan Katekyo Hitman Reborn! ntuh punya Amano Akira-sensei. Kalau fic gaje ini punya atashi. XD


Kyoya membuka matanya perlahan.Sinar matahari lembut masuk ke dalam kamar Kyoya melewati celah-celah jendela kamar Kyoya dan menyinari wajah Kyoya.

Dikucek-kucek matanya dengan kasar dan menguap selebar-lebarnya.

‘Jam berapa yah?’ batin Kyoya sembari menggaruk kepalanya.

Dilihatnya jam dinding yang menunjukkan pukul 06.30 pagi.

Tak lama, Kyoya sudah berdiri dan melepaskan piyamanya satu persatu, kemudian ia memasuki kamar mandi dan membasuh dirinya hingga bersih.

15 menit kemudian, Kyoya berjalan keluar dari kamar mandi hanya berselimutkan handuk dan menuju ke kamarnya langsung.

Sembari mencari-cari seragam sekolahnya ditumpukan bajunya, ia berpikir tentang kejadian kemarin.

‘Sensei itu masuk tidak yah hari ini?’ batinnya.

‘Kalau dia masuk, akan ku kamikorosu!’ batinnya lagi, sedangkan yang sedang dipikirkan Kyoya sedang bersin-bersin. (Note: Dino)

Setelah selesai memakai seragamnya, Kyoya mengambil tasnya dan berangkat ke sekolah.

Walaupun masih pagi sekali, Kyoya tetap pergi ke sekolah.

Akan tetapi, sebelum ke sekolah, ia mampir dahulu ke supermarket dan mencari makanan yang sudah dihangatkan.

Onigiri pilihannya.

Setelah membeli onigiri tersebut, Kyoya berangkat menuju ke sekolah kembali.

Begitu sampai di sekolah, Kyoya tak langsung ke kelasnya, melainkan ke atap sekolah untuk menyantap makanan yang ia beli barusan.

Sembari memakan onigiri tersebut, Kyoya memandangi langit biru yang penuh dengan awan putih.

“Dia sedang apa yah?” gumam Kyoya memikirkan mantannya.

‘Kresek’

Bunyi dari plastik bungkus onigiri yang timbul karena tak sengaja tersentuh oleh tangan Kyoya.

Dilihatnya bungkus plastik itu dengan seksama oleh Kyoya karena iseng.

Sedikit kaget ketika ia melihat tanggal kadaluarsa onigiri tersebut.

Onigiri yang ia makan barusan sudah kadaluarsa 1 minggu yang lalu!

‘Tapi rasanya masih enak,’ batin Kyoya.

‘Masa bodoh ah,’ batin Kyoya kembali.

Ia membuang bungkus onigiri pada tempatnya dan berjalan menuju kelasnya.

“Hibari!” panggil sebuah suara dari belakang Kyoya.

Kyoya menengok ke belakangnya dan ditemukanlah seorang laki-laki berambut tegak hitam menghampirinya dengan berlari di koridor sekolah.

“Hibari, baru sampai ke sekolah?” tanya laki-laki tersebut, Yamamoto.

“Hm,” jawab Hibari singkat.

“Kau sudah kerjakan PR yang diberikan Squalo-sensei?” tanya Yamamoto lagi.

“Hm,” jawab Hibari singkat kembali.

“Hei, kelas sudah mau dimulai. Cepat masuk ke kelas kalian,” tegur Dino yang tiba-tiba keluar dari ruang BK.

“Baik, Dino-sensei!” jawab Yamamoto ceria, sedangkan Kyoya manyun.

Tiba-tiba, sesuatu yang aneh terjadi pada Kyoya.

Kyoya terjatuh tiba-tiba begitu saja.

Padahal beberapa menit sebelumnya, ia masih baik-baik saja.

“Hibari! Ada apa?” tanya Yamamoto setengah panik.

“Kyoya-kun! Kau tidak apa-apa?” tanya Dino memegangi tangan kiri Kyoya.

Kyoya tak menjawab apa-apa.

Tangan kanannya memegangi perutnya dan warna mukanya pucat sekali.

“Mun…ta…” kata Kyoya pelan.

“Apa? Kau berbicara sesuatu, Kyoya?” tanya Dino panik.

“Mual… Ingin.. mun…tah…” ulang Kyoya yang tetap pelan.

Dengan sekejap, Dino menggendong Kyoya dengan bridal style.

“Aku akan bawa Kyoya ke WC. Kau kembali ke kelas,” perintah Dino ke Yamamoto.

“Ta-tapi…”

“Kau harus kembali ke kelas karena pelajaran sudah akan dimulai dan lapor ke guru kalau Kyoya hari ini ijin tidak masuk kelas,” perintah Dino kembali dan langsung berjalan cepat sembari menggendong Kyoya ke WC, meninggalkan Yamamoto yang bengong dengan aksi Dino.

Sampai di WC, Dino menunggu di luar sedangkan Kyoya sedang muntah di dalam WC murid.

Tak lama, Kyoya sudah keluar dari WC dengan wajah yang sudah meningan.

“Masih mual?” tanya Dino.

Kyoya hanya mengangguk pelan.

“Mau kuantar ke UKS?” tawar Dino.

“Tidak usah, aku bisa sendiri,” tolak Kyoya pelan karena ia masih mual.

“Kau tidak tau di mana UKS sekolah ini ‘kan?” tebak Dino.

Tebakan Dino benar.

Mau tak mau, Kyoya akhirnya dituntun oleh Dino ke UKS.

Sesampai di UKS, Dino memberikan perintah ke Kyoya untuk merebahkan dirinya di atas ranjang, sedangkan Dino mencari obat untuk menghilangkan rasa mual.

“Ini,” katanya sembari memberikan sebutir obat dan segelas air putih.

Kyoya menerimanya dengan lemas dan meminumnya dengan terpaksa.

“Kenapa bisa mual pagi-pagi? Kau belum makan?” tanya Dino khawatir.

“Bukan urusanmu,” jawab Kyoya dingin sembari merebahkan dirinya di atas ranjang UKS.

“Ini juga urusanku, karena kau muridku!” kata Dino sembari menghimpit Kyoya dengan kedua tangannya.

Mata mereka bertemu.

Kini jarak antara wajah mereka tidak begitu jauh.

“A-aku makan onigiri yang sudah kadaluarsa,” jawab Kyoya yang sedikit salting dan membuang mukanya agar mata mereka berdua tidak bertemu kembali.

“Oh, kenapa kau makan onigiri itu kalau sudah tau kadaluarsa?” tanya Dino yang mengangkat kedua tangannya untuk membebaskan Kyoya.

“Aku tidak tau kalau sudah kadaluarsa. Sekarang keluar, aku ingin tidur,” jawab Kyoya.

“Ahaha, kalau begitu, selamat tidur, Kyoya-kun,” kata Dino yang kemudian langsung menempelkan bibirnya ke bibir Kyoya dengan cepat dan sementara.

Hal tersebut membuat Kyoya harus berpikir selama 10 detik dahulu, barulah ia sadar apa yang Dino lakukan.

Kyoya langsung mengeluarkan tonfanya dan berusaha menyerang Dino.

“Kau ingin mati yah?” tanya Kyoya dengan death glare-nya dan menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan sebuah semburat merah dipipinya.

Karena Kyoya tiba-tiba bangkit untuk menyerang Dino, perutnya kembali sakit dan ia merasa tambah mual.

Seketika, ia terjatuh lagi ke atas ranjang.

“Kyoya-kun! Kau tidak apa-apa? Jangan banyak gerak kalau sakit!” nasehat Dino.

“Kau pikir siapa yang membuatku bergerak?” kata Kyoya meringkuk di atas ranjang UKS sembari memegangi perutnya yang kesakitan.

Dino hanya bisa menanggapi kata-kata Kyoya barusan dengan tawa kecil.

Suasana pun menjadi sepi sesudah ‘insiden’ tersebut.

“Ke-kenapa kau menciumku?” tanya Kyoya yang menoleh ke arah lain untuk menyembunyikan rasa malunya sedalam mungkin.

Dino memandangi Kyoya dengan pandangan tidak percaya.

“Kau…! Kau tidak tau kenapa aku menciummu?” teriak Dino kaget.

Beruntung di UKS saat itu hanya ada Dino dan Kyoya.

“Ti-tidak usah keras-keras bodoh! Lagipula, mana mungkin aku tau alasanmu menciumku kalau kau tidak bilang!” balas Kyoya sedikit geram bercampur malu.

“Kyoya-kun, kau sangat tidak sensitif yah,” kata Dino sembari menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

“Sensitif bagaimana?” tanya Kyoya sedikit tersinggung.

“Begini, Kyoya-kun. Waktu itu aku pernah bilang ‘kan kalau ada orang yang ingin kulindungi?” kata Dino sembari menepuk kepala Kyoya dengan tangan kanannya.

“Iya. Maka dari itu, kenapa kau menciumku?” tanya Kyoya lagi.

“Haduuuuuh, Kyoya-kun ku sayaang, masa aku harus ngomong juga sih?” kata Dino malu.

“Ngomong apa?” tanya Kyoya dengan polosnya. Sepertinya Kyoya sudah terkena penyakit ‘lemot’-nya Tsuna. -Author kena X Burner-

Kali ini muka Dino berubah jadi merah dan berusaha menutupi mukanya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih berada di atas kepala Kyoya.

“Kyoya-kun. Orang yang kusuka itu kau!” kata Dino kencang karena malu.

Kaget? Ya. Shock? Ya. Malu? Sedikitlah~

Kyoya yang mendengar hal tersebut langsung blush.

‘Eh? Maksudnya?’ pertanyaan tersebut terngiang-ngiang di dalam hati Kyoya.

“Ta-tapi ‘kan, sensei. Katamu kemarin, kau punya seseorang yang ingin kau lindungi!” kata Kyoya yang tampaknya berusaha menepis fakta bahwa gurunya itu menyukainya.

“Kyoya-kun, orang itu adalah kau. Lagipula mana mungkin aku mencium orang yang tidak aku suka,” kata Dino yang menunduk malu.

Kyoya kini tambah blush.

“Aaaarrgh! Aku frustasi! Baru kali ini aku menyatakan cinta dan yang paling terburuknya, orang itu adalah muridku sendiri!” teriak Dino kencang.

Entah murid lain yang di dalam kelas dapat mendengarnya atau tidak.

“Maaf kalau aku hanya seorang murid,” kata Kyoya dingin.

“Ah, bukan begitu, Kyoya-kun! Maksudku, aku tidak percaya bahwa aku bisa jatuh cinta kepada muridku sendiri. Ini ‘kan artinya cinta terlarang,” kata Dino malu.

“Kalau aku bukan muridmu juga tetap akan menjadi cinta terlarang. Kita berdua ‘kan laki-laki,” jawab Kyoya yang tetap dingin.

“Oh iya yah. Aku lupa. Ahahaha,” jawab Dino dengan entengnya.

Lawan bicaranya hanya bisa menghembuskan nafas pelan.

“Jadi, Kyoya-kun. Kau ingin menjadi kekasihku?” tanya Dino serius.

Kyoya tampak kaget dan berusaha untuk berpikir keras.

“Tidak mau juga tidak apa-apa,” jawab Dino tertawa, tetapi di wajahnya tampak sedikit rasa sakit.

“Bu-bukan begitu. Sebenarnya aku baru putus dari pacarku. Aku tidak ingin menjadikan sensei sebagai tempat pelarianku,” terang Kyoya tertunduk.

Dengan sekejap, Dino memegang kedua tangan Kyoya.

“Kyoya-kun. Aku tidak apa-apa dijadikan tempat pelarianmu, karena aku mencintaimu dengan tulus, Kyoya. Asalkan kau bisa bahagia, aku akan berbuat apapun untukmu,” jawab Dino serius.

Kyoya kaget dan sedikit senang dengan respon Dino.

“Sensei, sensei tidak sadar yah kalau kata-kata jadul sensei tadi seperti kaya sinetron di tv?” tanya Kyoya datar.

Batu besar bertuliskan ‘Jadul’ menimpa kepala Dino.

“Ti-tidak penting! Jadi, kau ingin menjadi kekasihku atau tidak?” tanya Dino yang blush karena kata-katanya tadi.

Perlahan, Kyoya menarik tangannya kembali yang sedaritadi dipegang oleh Dino.

“Aku… Aku takut,” kata Kyoya.

“Takut apa?” tanya Dino sedikit kaget.

“Aku takut kalau ada orang yang akan mengkhianatiku lagi,” kata Kyoya sembari memeluk kedua lututnya.

“Aku sudah 3 kali dikhianati. Aku tidak ingin dikhianati lagi,” tambah Kyoya sembari membenamkan wajahnya di atas kedua lututnya.

“Kyoya…”

“Ayah dan ibu sudah mengkhianatiku. Dan orang itu juga,” kata Kyoya dengan pandangan sedih.

Flashback

Kyoya’s POV

Sms ku tidak dibalas. Telepon dariku tidak diangkat. Kenapa?

Sudah sedaritadi aku terus menunggu ia mengangkat hp-nya dan menunggu ia membalas sms-ku.

Ada apa yah? Padahal tadi di sekolah ia tidak beritahu aku sama sekali kalau-kalau hari ini ia sibuk atau tidak.

Aku memeluk gulingku dengan pelan.

‘Apa aku ke rumahnya saja yah?’ batinku.

Sempat terjadi pertikaian di dalam diriku untuk pergi ke rumahnya atau tidak.

Akhirnya, aku putuskan untuk pergi ke rumahnya.

Kanan, kiri, lurus, kiri, kiri, dan sampailah aku di depan rumah kekasihku yang membuatku cemas sedaritadi.

Di depan pagarnya, aku sempat bingung akan melangkah masuk atau tidak.

Pintu rumahnya terbuka tiba-tiba dari dalam.

Reflek, aku langsung bersembunyi di balik tembok.

Sedikit-sedikit, aku mengintip siapa yang keluar dari rumahnya.

Ibunya kah? Ayahnya kah? Atau dia?

Yang kudapati adalah ia bersama seorang gadis.

Gadis cantik bermata ungu.

Mirisnya, aku melihat kekasihku, Mukuro, mengusap kepala gadis itu.

Aku berusaha menenangkan hatiku dan menepis semua prasangka buruk yang muncul di dalam pikiranku.

Mereka berdua bergandengan tangan dan pergi ke luar pekarangan menuju pagar rumah Mukuro.

Aku langsung berjalan menjauh dan mengamati mereka dari kejauhan.

Mukuro dan gadis itu keluar dari rumah dan pergi.

Aku membuntuti mereka secara diam-diam.

Mereka mengunjungi begitu banyak toko dan makan bersama dengan mesranya.

Sebagian diriku ingin cepat-cepat pulang karena tidak tahan melihat betapa akrabnya mereka berdua.

Tetapi sebagian diriku lagi ingin tetap mengawasi mereka karena penasaran yang terdapat di dalam hatiku.

Terakhir, aku lihat mereka mengunjungi sebuah toko topi dan bercanda-canda di dalamnya.

Tak lama, Mukuro memeluk gadis itu dan mencium keningnya.

Gadis itu tampak senang diperlakukan seperti itu oleh Mukuro.

Seketika juga, hancurlah hatiku berkeping-keping.

Siapa gadis itu? Kenapa Mukuro menciumnya? Kenapa Mukuro memeluknya?

Berbagai prasangka yang kutepi daritadi mulai menghantui diriku.

Tidak mungkin, tidak mungkin Mukuro selingkuh.

Setelah melihat kejadian itu, aku pulang ke rumah sembari berlari.

Berharap sakit yang ada di dalam hatiku hilang.

Aku memasuki pintu rumah dan menutupnya dengan kencang-kencang.

“Kyoya! Apakah kau tidak bisa menutup pintu dengan tenang?” omel seorang wanita yang tampak berumur 30-an.

“Berisik! Aku sedang kerja!” tambah seorang pria yang sedang duduk di depan laptopnya.

“Daritadi kau hanya bisa duduk di depan laptopmu itu! Bisakah kau mendidik Kyoya dengan benar? Lihat! Ia menjadi anak yang kasar seperti ini karena mu!” omel wanita itu terhadap pria yang duduk di depan laptopnya.

“Kenapa salahku? Kau juga yang salah! Kau sebagai ibunya tidak bisa mendidiknya dengan benar!” balas pria itu.

“Lagi-lagi salahku! Aku sudah capek! Lebih baik kita bercerai!” teriak ibuku.

“Baik! Lebih baik aku tinggal sendiri dibandingkan harus tinggal denganmu!” balas ayahku.

Berisik, semuanya berisik!

Aku langsung naik ke tangga menuju kamarku.

Aku mengunci kamarku dan langsung bersembunyi di dalam selimut.

Pacarku selingkuh, orang tuaku akan bercerai. Apakah ada orang yang nasibnya lebih buruk dibandingkanku?

Malam itu juga, ayah dan ibu bercerai.

Mereka menandatangani surat cerai dengan gampangnya.

Aku pun memilih tinggal dengan ayahku, walaupun kurasa tidak ada bedanya mau tinggal dengan ayahku maupun ibuku.

Aku pun keluar dari Kokuyo High School tanpa mengatakan apapun kepada teman dan pacarku.

Aku tidak ingin bertemu Mukuro, aku tidak ingin mengatakan apa-apa kepadanya.

Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi karena takut aku akan kehilangan kendali dan akan memukulnya atau menangis di depannya.

Lebih baik aku pergi.

End of Kyoya’s POV

End of flashback

“Jadi begitu, yah?” tanya Dino usai mendengar cerita Kyoya.

Kyoya hanya mengangguk pelan lemas.

Dino menghela nafas pelan.

Dino mengambil tangan kanan Kyoya dan meletakkan tangan tersebut di dadanya yang bidang.

“Kyoya-kun, aku berjanji tidak akan mengkhianatimu. 1 tahun, 3 tahun, maupun 100 tahun, aku juga tidak akan mengkhianatimu. Ada wanita cantik pun juga aku tidak akan mengkhianatimu. Aku tetap akan bersamamu,” kata Dino berusaha meyakinkan Kyoya.

Kyoya terpana dengan kata-kata Dino.

“Sensei, lagi-lagi kata-kata mu jadul seperti kaya di sinetron,” jawab Kyoya datar.

Untuk kedua kalinya, sebuah batu bertuliskan ‘Jadul’ jatuh di atas kepala Dino.

“Ja-jadi kau ingin menjadi kekasihku atau tidak?” tanya Dino kencang karena malu.

Kyoya sedikit tersenyum.

“Aku tidak tau. Tapi aku rasa aku akan mencoba untuk membuka isi hatiku untuk orang bodoh sepertimu, sensei,” jawab Kyoya.

“Yattaaaaa!” teriak Dino senang hingga seluruh murid yang sedang dalam proses belajar dapat mendengarnya.

“Eh, tunggu! Apa maksudmu orang bodoh sepertiku?” protes Dino.

“Maksudnya sama seperti kata-kataku tadi, baka sensei,” jawab Kyoya senyum licik.

“Aku tidak bodoh! Aku ‘kan guru!” bela Dino kepada sendirinya seperti anak kecil.

“Oh iya, Kyoya-kun. Boleh ‘kan aku memanggilmu Kyoya saja?” tanya Dino.

“Terserah,” jawab Kyoya dengan singkat, padat, dan jelas.

“Yeaaaah! Ayo kita rayakan hari jadian kita berdua!” kata Dino sembari menarik tangan Kyoya keluar UKS, tak ingat kalau Kyoya masih sakit perut.

“Hoi, herbivore! Siapa bilang kita jadian! Lagipula, mau dirayakan di mana?” tanya Kyoya sedikit meringis kesakitan karena perutnya yang masih sakit.

“Heh? Di mana? Tentu saja di hotel!” jawab Dino enteng.

Jawaban Dino langsung membuat Kyoya blush dan mengambil tonfanya.

BLETAK!

Tonfa berhasil mendarat di kepala Dino.

“Aduh, duuuh. Kyoya, sakit!” ringis Dino sembari memegangi kepalanya yang benjol.

“Kamikorosu!” kata Kyoya yang mukanya merah sekali.

Enak saja, belum jadian saja sudah mau mengajaknya ke hotel.

“Kyoya, tunggu dulu! Kenapa kau jadi tiba-tiba marah begini?” tanya Dino panik.

“Pokoknya, kamikorosu!” jawab Kyoya yang masih merah mukanya dan langsung mengejar Dino.

Yang menjadi mangsanya otomatis langsung berlari dengan cepat.

“Kenapa aku jadi dikejar begini, Kyoyaa?”

“Berisik, kamikorosu!”

Mereka berdua akhirnya terus berlarian di dalam sekolah.

Murid-murid yang di dalam kelas hanya sweatdropped, karena seorang guru masa dikejar oleh muridnya sendiri?

“Yare-yare, sepertinya mulai hari ini muncul pasangan yang merepotkan,” kata Reborn yang melihat Kyoya mengejar Dino.

Seharian penuh, mereka berdua lari di dalam sekolah hingga bel tanda istirahat berbunyi.


Nyahaha, selesai juga!Tadinya atashi mau bikin Kyoya nangis lho, tapi kagak jadi, soalnya atashi bilang mirip adegan sinetron banget. ==a

Mari kita adakan polling~

Apakah para reader setuju kalau atashi buat Kyoya nangis di chapter-chapter selanjutnya? :D -kena tonfa-

Hibari: “Apa maksudnya kalau aku akan dibuat menangis?” -keluarin death glare no jutsu-

Author gaje: “Anoo, etto… Kan belum tentu! Ahaha, kita liet dulu gimana reaksi para reader, pada setuju atau kaga kalau Hibari-sama nangis. :D

Hibari: “Kamikorosu!” -keluarin tonfa-

Author gaje: “Hiii! Ja-jangan Hibari-sama! Mohon pengampunan!” -nangis darah-

Hibari: “Awas kalau ada adegan aku nangis!”

Author gaje: “Wah, itu tergantung polling dari reader, Hibari-sama. Atashi ga bisa ubah. Ngomong-ngomong, kemarin-kemarin atashi mimpi dansa sama Hibari-sama lho~” -nosebleeds-

Hibari: “Ngarep,”

Author gaje: “Hibari-sama kejam amat. TT^TT Yo dah deh, Hibari-sama. Langsung kata-kata penutupnya,”

Hibari: “Kau siapa berani memerintahku?” -keluarin hawa ga enak-

Author gaje: “Hiii! Hi-Hibari-sama, sekali aja. Nanti atashi usahain deh ga ada adegan nangis,” -bohong mode-

Hibari: “Hm. Fic ini adalah fic abal-abal dan gaje. Jangan kasih ampun author gaje ini kalau ada misstypo atau ada yang ga disuka reader. Kritik dan saran dibutuhkan, kalau perlu flame sebanyak-banyaknya. Review!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s